Archive for May, 2009

Entrepreneurs Are Not Made, They Are Born…

Judul postingan di atas sebenarnya adalah merupakan ekspresi verbal yang secara spontan saya ucapkan setelah mengunjungi seorang paman yang kebetulan saat ini menetap di salah satu kecamatan di Jawa Timur yang berprofesi sebagai pembuat sepatu. Paman kami ini (sebut saja namanya Pak Lik), memulai profesinya dengan “ngenger” (magang) menjadi asisten salah satu pegawai tukang pembuat sepatu di daerahnya. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, “ngenger” adalah merupakan tingkatan paling rendah dalam kasta pembuat sepatu (mungkin dapat disamakan dengan O.B dalam kasta perkantoran modern di kota-kota besar :) ).

Dalam perjalanannya, dan sebagai hasil dari kerja kerasnya, Pak Lik akhirnya berhasil menjadi juragan sepatu yang cukup berhasil di daerahnya. Kemudian saat industri sepatu rumahan dilanda krisis ekonomi pada tahun 1996-1997, Pak Lik kemudian berpikir untuk melakukan sesuatu agar tidak terlibas krisis tersebut. Ia mengetahui pada saat itu bisnis burung peliharaan sedang marak di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Ternyata, bukannya ikut berbisnis burung peliharaan, Pak Lik justru memilih berternak jangkrik yang merupakan makanan utama dari burung peliharaan. Hal ini kemudian membawa dampak luar biasa bagi bisnis Pak Lik sendiri.

Strategi bisnis seperti ini dalam ilmu marketing/entrepreneur modern dinamakan strategi “Blue Ocean” atau yang kemudian berkembang dengan strategi “Black Swan”, dimana seorang pebisnis bukannya mengikuti arus utama, malah justru membuat arus baru yang berbeda dengan pebisnis kebanyakan dan meraup untung yang banyak dari tindakannya itu. Hal itu kemudian Pak Lik terapkan di bisnisnya yang lain dan meraup untung yang saya duga jumlahnya miliaran. Sebagai informasi tambahan saat ini Pak Lik memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di berbagai bidang industri seperti sepatu, plastik, dan lainnya.

 Apabila Pak Lik adalah lulusan sekolah bisnis ternama, tentunya saya tidak akan mengeluarkan ekspresi verbal yang menjadi judul postingan ini, akan tetapi dalam hal ini Pak Lik adalah sosok yang kebetulan tidak mendapat kesempatan untuk mengecap jenjang sekolah yang tinggi, sehingga tentu saja secara spontan saya mengucapkan ekspresi verbal tersebut di atas.

Dua hal yang saya pelajari dari sosok Pak Lik, adalah ia tetap sederhana dan tidak pernah ragu turun ke bawah (bahkan saat ini saya ketahui ia masih suka berkeliling kota-kota sekitar Surabaya untuk menjajakan sepatu dengan mengemudikan pick-up kesayangannya), satu hal yang tampaknya jarang dilakukan oleh eksekutif di kota-kota besar yang jangan-jangan “penghasilannya” malah tidak sebanyak Pak Lik… :P

mesin pembuat sol sepatu di pabrik Pak Lik

tumpukan sepatu jadi

Pak Lik sedang berbincang dengan kakak saya

salah seorang pekerja Pak Lik yang kami aja ngobrol

kakak saya sedang mencoba sepatu pilihannya (buatan Pak Lik tentunya)

 

4 comments May 23, 2009

My Traveling Note – House of Sampoerna, Surabaya

Pada kesempatan kali ini berkunjung ke Surabaya, kami sekeluarga kembali mengunjungi the House of Sampoerna yang merupakan salah satu tempat favorit kami sekeluarga apabila mengunjungi Surabaya. Walaupun sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, baru kali ini saya berkesempatan untuk menceritakan sedikit mengenai tempat tersebut.

Bangunan ini dahulunya merupakan rumah tinggal dari pemilik perusahaan yang sekaligus digunakan sebagai pabrik dari perusahaan rokok Sampoerna. Berdasarkan keterangan yang saya peroleh, bangunan yang saat ini dikenal sebagai the House of Sampoerna ini dibangun pada tahun 1862. Pada tahun 1932 bengunan ini resmi dibeli oleh Liem Seeng Tee yang merupakan pendiri dari dan sekaligus merupakan generasi pertama dari “Dinasti Sampoerna”. Pada saat ini, secara garis besar bangunan the House of Sampoerna dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu:

Museum

Bagian yang pertama dari the House of Sampoerna adalah Museum, yang merupakan tempat koleksi barang-barang yang menjadi bagian penting dari sejarah Sampoerna dan budaya tembakau pada umumnya. Bagi saya, koleksi yang cukup menarik untuk dilihat adalah replika dari “warung” pertama yang dimiliki oleh Liem Seeng Tee dan istrinya yang dapat dikatakan merupakan tonggak awal dimulainya bisnis dari Dinasti Sampoerna serta mesin cetak kuno yang dahulunya dipakai untuk mencetak bungkus rokok pada jaman itu. 

(Gerbang masuk museum)

Museum-Enter Sign(Museum-Enter Sign)

(Keadaan dalam museum)

(Replika “warung” pertama yang dimiliki oleh Liem Seeng Tee dan Isteri)

(Mesin cetak asli yang dahulu digunakan sebagai pencetak bungkus rokok)

Satu hal yang tampaknya perlu saya kemukakan disini adalah pada lantai 2 bangunan museum terdapat anjungan pantau (viewing gallery) dimana kita masih bisa melihat bagian pabrik yang hingga saat ini masih berfungsi, sehingga apabila kita datang pada saat jam kerja, kita bisa melihat langsung proses produksi dan keadaan pabrik asal Sampoerna yang hingga kini masih berfungsi. Sayangnya, saya dan keluarga datang pada hari libur sehingga kami tidak melihat proses tersebut, namun kami masih sempat mengambil beberapa foto dari anjungan pantau (viewing gallery) yang ada di lantai 2 (dua) tersebut.

(Keadaan pabrik dilihat dari anjungan pantau (viewing gallery) )

(Tempat produksi yang ada di lantai 2)

 

Art Gallery

Bagian yang kedua dari the House of Sampoerna adalah “Art Gallery”. Art Gallery ini digunakan sebagai tempat pameran berbagai macam seni rupa. Sayangnya pada kesempatan kali ini saya tidak memasuki Art Gallery tersebut, dan hanya sempat untuk memotret bagian depannya saja.

(Tampak depan dari “Art Gallery”)

 

The Kiosk

Bagian yang ketiga dari the House of Sampoerna adalah “The Kiosk”. Tempat ini ada di lantai 2 (dua) museum dan digunakan untuk menjual berbagai macam souvenir (terutama fashion/pakaian) yang dibuat khusus oleh the House of Sampoerna. Apabila ada yang pernah mendengar atau berbelanja di “A Store”, yaitu toko khusus barang-barang yang berlogokan Sampoerna, maka tempat ini dapat dikatakan sebagai tempat pusat barang-barang tersebut. Bagi penggemar barang-barang yang dijual di A Store, maka tempat ini menjadi tempat yang tidak asing lagi.

img_kiosk(The kiosk)

The Cafe

Bagian yang keempat dari the House of Sampoerna adalah the Cafe, ialah sebuah restoran dengan konsep yang sangat unik, dimana seluruh design interiornya mengadopsi gaya kuno/retro yang selaras dengan  bentuk bangunannya. Dalam the Cafe ini juga terdapat beberapa ornamen-ornamen kuno yang unik hingga lukisan yang menggambarkan beberapa slogan iklan Sampoerna.

(Tampak depan the Cafe-disini isteri, adik ipar dan ponakan saya ikut terfoto :) )

(Suasana interior yang unik)

(Beberapa ornamen kuno yang menjadi pajangan)

(Slogan salah satu iklan Sampoerna yang dibuat dalam bentuk lukisan yang berpasangan) 

Singkat kata, saya harus acungkan jempol kepada Sampoerna yang bisa menjaga dan mengusahakan secara maksimal sebuah bangunan yang memiliki nilai historis sehingga bisa dinikmati khalayak umum. Sepanjang pengamatan saya, seluruh area the House of Sampoerna sangat bersih dan tertata rapih sehingga pengunjung pun merasa betah. Konsep yang ditawarkan pun unik dengan menggabungkan konsep museum, resto, serta fashion boutique yang ada di “the Kiosk”. Suatu hal yang tampaknya sulit bahkan cenderung mustahil saya dapatkan apabila mengunjungi museum “plat merah”… :P

 

 

 

2 comments May 18, 2009

It’s a Redbull, It’s a Kratingdaeng, No… It’s a BADAK!!

Setelah makan pagi di kantin kantor, saya menemukan produk yang mirip dengan minuman energi yang terkenal itu… 

badak022

Versi Gelasnya

Badak03

Versi Botolnya

Badak01

Versi lebih jelasnya…

Nampaknya strategi plagiarisme (moga2 gak salah ya ngetiknya..) adalah merupakan strategi yang cukup efektif meraup pasar atau setidaknya meraih perhatian pasar :)

2 comments May 16, 2009


 

May 2009
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Recent Posts

RSS Latest News From Liverpool FC

RSS Lates News From Kompas.com

Categories

Archives

Blogroll

Meta