My Traveling Note – House of Sampoerna, Surabaya

May 18, 2009

Pada kesempatan kali ini berkunjung ke Surabaya, kami sekeluarga kembali mengunjungi the House of Sampoerna yang merupakan salah satu tempat favorit kami sekeluarga apabila mengunjungi Surabaya. Walaupun sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, baru kali ini saya berkesempatan untuk menceritakan sedikit mengenai tempat tersebut.

Bangunan ini dahulunya merupakan rumah tinggal dari pemilik perusahaan yang sekaligus digunakan sebagai pabrik dari perusahaan rokok Sampoerna. Berdasarkan keterangan yang saya peroleh, bangunan yang saat ini dikenal sebagai the House of Sampoerna ini dibangun pada tahun 1862. Pada tahun 1932 bengunan ini resmi dibeli oleh Liem Seeng Tee yang merupakan pendiri dari dan sekaligus merupakan generasi pertama dari “Dinasti Sampoerna”. Pada saat ini, secara garis besar bangunan the House of Sampoerna dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu:

Museum

Bagian yang pertama dari the House of Sampoerna adalah Museum, yang merupakan tempat koleksi barang-barang yang menjadi bagian penting dari sejarah Sampoerna dan budaya tembakau pada umumnya. Bagi saya, koleksi yang cukup menarik untuk dilihat adalah replika dari “warung” pertama yang dimiliki oleh Liem Seeng Tee dan istrinya yang dapat dikatakan merupakan tonggak awal dimulainya bisnis dari Dinasti Sampoerna serta mesin cetak kuno yang dahulunya dipakai untuk mencetak bungkus rokok pada jaman itu. 

(Gerbang masuk museum)

Museum-Enter Sign(Museum-Enter Sign)

(Keadaan dalam museum)

(Replika “warung” pertama yang dimiliki oleh Liem Seeng Tee dan Isteri)

(Mesin cetak asli yang dahulu digunakan sebagai pencetak bungkus rokok)

Satu hal yang tampaknya perlu saya kemukakan disini adalah pada lantai 2 bangunan museum terdapat anjungan pantau (viewing gallery) dimana kita masih bisa melihat bagian pabrik yang hingga saat ini masih berfungsi, sehingga apabila kita datang pada saat jam kerja, kita bisa melihat langsung proses produksi dan keadaan pabrik asal Sampoerna yang hingga kini masih berfungsi. Sayangnya, saya dan keluarga datang pada hari libur sehingga kami tidak melihat proses tersebut, namun kami masih sempat mengambil beberapa foto dari anjungan pantau (viewing gallery) yang ada di lantai 2 (dua) tersebut.

(Keadaan pabrik dilihat dari anjungan pantau (viewing gallery) )

(Tempat produksi yang ada di lantai 2)

 

Art Gallery

Bagian yang kedua dari the House of Sampoerna adalah “Art Gallery”. Art Gallery ini digunakan sebagai tempat pameran berbagai macam seni rupa. Sayangnya pada kesempatan kali ini saya tidak memasuki Art Gallery tersebut, dan hanya sempat untuk memotret bagian depannya saja.

(Tampak depan dari “Art Gallery”)

 

The Kiosk

Bagian yang ketiga dari the House of Sampoerna adalah “The Kiosk”. Tempat ini ada di lantai 2 (dua) museum dan digunakan untuk menjual berbagai macam souvenir (terutama fashion/pakaian) yang dibuat khusus oleh the House of Sampoerna. Apabila ada yang pernah mendengar atau berbelanja di “A Store”, yaitu toko khusus barang-barang yang berlogokan Sampoerna, maka tempat ini dapat dikatakan sebagai tempat pusat barang-barang tersebut. Bagi penggemar barang-barang yang dijual di A Store, maka tempat ini menjadi tempat yang tidak asing lagi.

img_kiosk(The kiosk)

The Cafe

Bagian yang keempat dari the House of Sampoerna adalah the Cafe, ialah sebuah restoran dengan konsep yang sangat unik, dimana seluruh design interiornya mengadopsi gaya kuno/retro yang selaras dengan  bentuk bangunannya. Dalam the Cafe ini juga terdapat beberapa ornamen-ornamen kuno yang unik hingga lukisan yang menggambarkan beberapa slogan iklan Sampoerna.

(Tampak depan the Cafe-disini isteri, adik ipar dan ponakan saya ikut terfoto :) )

(Suasana interior yang unik)

(Beberapa ornamen kuno yang menjadi pajangan)

(Slogan salah satu iklan Sampoerna yang dibuat dalam bentuk lukisan yang berpasangan) 

Singkat kata, saya harus acungkan jempol kepada Sampoerna yang bisa menjaga dan mengusahakan secara maksimal sebuah bangunan yang memiliki nilai historis sehingga bisa dinikmati khalayak umum. Sepanjang pengamatan saya, seluruh area the House of Sampoerna sangat bersih dan tertata rapih sehingga pengunjung pun merasa betah. Konsep yang ditawarkan pun unik dengan menggabungkan konsep museum, resto, serta fashion boutique yang ada di “the Kiosk”. Suatu hal yang tampaknya sulit bahkan cenderung mustahil saya dapatkan apabila mengunjungi museum “plat merah”… :P

 

 

 

Entry Filed under: General. .

2 Comments Add your own

  • 1. Rifi Pohan  |  May 19, 2009 at 12:04 pm

    ya iyalah, ga bakal ditemuin di museum plat merah, wong duit maintenance, promosi, dll diembat semua..gimana cobaa??

    Reply
  • 2. emirpohan  |  May 21, 2009 at 11:57 am

    Yoi pi..agak parah memang. waktu gw ke S’pore, gw masuk ke sebuah museum yang namanya “Empress Palace”, bagus banget pi, agak tragis ya, secara negara kita bener2 kaya akan budaya tapi terkesan gak peduli sama budaya sendiri..haaahhh…

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

May 2009
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Recent Posts

RSS Latest News From Liverpool FC

RSS Lates News From Kompas.com

Categories

Archives

Blogroll

Meta